Best Small Business Opportunities USA in 2018
As entrepreneurs we are always looking for the best small business opportunities USA. Isn’t it?
We all want financial freedom while doing what we love and what else can be more fulfilling in life than pursuing what we actually believe in and love doing every single day.
Most of us want to be entrepreneurs and have a desire to start our own business while the fear of failure holds us back most of the time from getting started and taking that first step towards starting a small business and realizing our dream.
There’s nothing like owning a successful small business but most of us wanna-be entrepreneurs are unable to decide which small business to get into or which industry would be the best considering growth and stability.
(Humas UGM/Gloria; Foto: Firsto)Well today in this post we will share with you the best small business opportunities USA that offer lots of space to grow as well as profits in 2018.
But first let’s go through some steps that will help you set your foot in the right direction for grabbing the small business opportunities USA:
The first step is to find your perfect small business idea and conduct market research:At Home Medical Services ,Auto Repair,Computer repair and Mobile Phone Repair – Everyone needs some sort of help with their slowing PC s or virus removal or cracked mobile screen and people love to get all these fixed at their home in front of their eyes and they are ready to pay extra for the convenience.
Mengenakan seragam satpam lengkap dengan sepatu bot kebanggaannya, Teguh Tuparman berjalan tegap menuju gedung Grha Sabha Pramana dengan menggandeng istri serta anak-anaknya. Hari itu adalah hari yang penuh sukacita baginya, karena ia berkesempatan untuk menyaksikan putri sulunnya diwisuda di UGM dengan menyandang gelar doktor.
Retnaningtyas Susanti lahir 33 tahun yang lalu, pada tahun yang sama di mana Teguh mulai bekerja di UGM. Ia bergabung dengan satuan keamanan UGM yang kini bernama Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L). Baginya, dua momen penting dalam hidupnya yang terjadi hampir bersamaan ini bukanlah suatu kebetulan.
“Saya percaya ini memang sudah rezeki, semua sudah diatur,” ucapnya yakin.
Senyum tak bisa lepas dari wajah Teguh ketika ia menceritakan perjalanan anaknya hingga berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan yang tertinggi di kampus ternama. Ia masih mengingat saat-saat di mana ia sering membawa Tyas kecil ke tempat kerjanya, dan mengajaknya ikut berpatroli pada akhir pekan. Sembari mengitari fakultas demi fakultas yang ada, terbersit keinginan dalam hatinya untuk suatu hari melihat anaknya bisa berkuliah di salah satu gedung yang setiap hari ia lewati.
“Kan saya kerja di tempatnya orang-orang pintar, jadi saya ingin juga anak saya nanti bisa jadi seperti orang-orang ini,” kata Teguh.
Berbekal impian tersebut, Teguh dengan mantap mendukung anaknya yang ingin melanjutkan studi di Prodi Antropologi UGM selepas menyelesaikan pendidikan di SMA, meski bukan hal yang mudah baginya untuk mengumpulkan biaya kuliah di samping memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya dengan gajinya yang terbatas.
“Dulu ya harus korban moril dan materil, hutang sana sini. Tapi saya yakin kalau uang itu digunakan untuk hal yang baik nanti akan ada penggantinya. Dan nyatanya sampai sekarang kami bisa hidup cukup, dan empat anak kami semua kuliah,” tuturnya.
Dukungan penuh dari orang tua dan tekad pribadi membawa Tyas menyelesaikan jenjang S1 dalam waktu yang cukup singkat, 3 tahun 7 bulan. Selepas lulus ia sempat bekerja sebagai peneliti di Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (PSKK) UGM. Seiring berjalannya waktu, kecintaannya terhadap penelitian yang ia tekuni menumbuhkan impian di dalam dirinya untuk berprofesi sebagai dosen. Dua tahun setelah ia lulus dengan gelar sarjana, ia memutuskan untuk kembali melanjutkan studinya di jenjang S2.
“Waktu saya kuliah S1 Bapak dukung penuh. Meski awalnya saya tidak yakin bisa kuliah, Bapak yakinkan bahwa saya bisa kuliah. Tapi waktu saya mau S2 Bapak tidak bisa membiayai lagi, karena adik-adik saya juga masih sekolah semua,” tutur Tyas.
Ia pun bertekad untuk membiayai sendiri kuliahnya. Berbagai pekerjaan sampingan pernah ia tekuni demi mencari penghasilan tambahan, mulai dari bekerja di warung kopi hingga berjualan.
“Saya masih ingat dulu sering berjualan salak di depan sini,” ujarnya sembari menunjuk salah satu sudut di sisi selatan UGM.
Segala kerja keras yang ia lalui pun membuahkan hasil. Tahun 2011 ia berhasil membawa pulang gelar master di bidang pariwisata, gelar yang membuka jalan baginya untuk memulai profesi dosen di Universitas Andalas Padang. Pada tahun 2013, ia pun kembali lagi ke Jogja untuk studi S3 dengan beasiswa BPPDN Dikti.
Bagi Tyas, perjalanan penjang yang ia lalui membuatnya tersadar bahwa tidak ada kata tidak mungkin bagi orang yang memiliki niat tulus dan kesungguhan untuk menimba ilmu. Bagi adik-adiknya yang masih duduk di bangku kuliah, juga orang lain yang membaca kisahnya, Tyas menitipkan pesan untuk terus berjuang mendapat pendidikan yang terbaik, karena ada berbagai jalan yang dapat ditempuh.
Usai melihat anaknya diwisuda untuk ketiga kalinya, tidak ada lagi hal yang Teguh harapkan dari putrinya ini. Namun bagi Tyas, keberhasilannya meraih gelar doktor justru menambah satu impiannya bagi orang tua tercinta.
“Saya ingin Bapak dan Ibu melihat saya dikukuhkan sebagai guru besar suatu hari kelak,” ucapnya mantap sambil merangkul sang ayah tercinta.
Sumber : Kumparan
